Sebagai pengusaha maupun tenaga kerja, Anda pasti akan menghadapi masa pensiun. Masa ini bisa dibilang sebagai masa terberat karena Anda harus menyiapkan dana yang cukup untuk memenuhi keperluan sehari-hari, maupun membayar biaya pengobatan apabila Anda menghadapi masalah kesehatan.

Pertanyaannya, apakah Anda masih harus membayar pajak di usia Anda yang sudah tidak produktif lagi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Anda bisa menyimak penjelasan di bawah.

Wajib Pajak yang Masih Menerima Penghasilan

Menurut Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan, PPh dikenakan terhadap orang pribadi maupun badan yang memperoleh penghasilan. Penghasilan ini bisa dalam bentuk :

     a) Gaji, upah, tunjangan, honorarium, uang pensiun, gratifikasi, bonus atau imbalan lainnya atas pekerjaan atau jasa

     b) Hadiah yang berasal dari undian, pekerjaan atau penghargaan

     c) Laba usaha

     d) Bunga premium, diskonto, imbalan karena jaminan pengembalian utang, dividen maupun premi asuransi.

     e) Royalti, sewa dan penghasilan yang berhubungan dengan penggunaan harta.

     f) Tambahan kekayaan neto dari penghasilan belum kena pajak. 

Dengan kata lain, apabila Anda adalah seorang pengusaha atau Anda menerima uang pensiun dari perusahaan tempat Anda bekerja sebelumnya, penghasilan Anda tersebut masih dikenakan pajak penghasilan.

Bagaimana dengan Pensiunan yang Tidak Menerima Penghasilan?

Pensiunan yang tidak lagi memperoleh penghasilan sesuai dengan ketentuan di atas bukan merupakan subjek PPh (tidak perlu membayar PPh), namun masih merupakan wajib pajak. Sebagai wajib pajak, seorang pensiunan masih memiliki kewajiban pajak.

Kewajiban Pajak Pensiunan

Meskipun Anda sudah tidak lagi menerima penghasilan, Anda ternyata tetap harus melaksanakan kewajiban pajak. Selama masih memiliki NPWP, maka Anda diwajibkan untuk tetap melaporkan SPT tahunan.

Pelaporan SPT tahunan ini meliputi :

     a) Aset yang dimiliki. Contohnya, rumah, tanah, perhiasan, uang tunai, dan sebagainya.

     b) Aset investasi berupa deposito, tabungan atau emas batangan.

     c) Penambahan atau pengurangan aset lain yang dimiliki.

Cara Melaporkan SPT bagi Pensiunan

Secara umum, pelaporan SPT tahunan pensiunan tidak berbeda jauh dengan SPT tahunan wajib pajak biasa. Hanya saja, pensiunan menggunakan formulir dengan kode 1770, yang mana ditujukan bagi mereka yang tidak mempunyai penghasilan.

Pada formulir tersebut, dapat diisi data-data aset yang Anda miliki, diantaranya rumah, tanah, deposito, pewarisan, hibah, serta penjualan dan pembelian aset baru.

Bagaimana? Apakah Anda sudah memahami kewajiban pajak Anda sebagai pensiunan. Tenang saja, jika Anda tidak mempunyai penghasilan, Anda hanya perlu mengisi formulir SPT dan tidak harus membayar pajak penghasilan.